Text
FESTIVAL LEGU GAM SEBAGAI KEBUADAYAAN DAERAH
Nama Kasmirus Loy. Judul skripsi “FESTIVAL LEGU GAM SEBAGAI
KEBUDAYAAN TERNATE” dibimbing oleh Bapak Dr.Safrudin
Amin,S.Sos,.M. A. Selaku pembimbing I dan Bapak Hudan Irsyadi S.Pd,.M.A.
Selaku pembimbing II.
Penelitian ini ingin mendiskusikan perihal Festival Legu Gam sebagai
Kebudayaan Daerah. Festival legu gam merupakan kontes kebudayaan yang
pelaksaannya dilakukan oleh pihak Kesultanan Ternate dalam memperingati
hari ulang tahun Sultan Ternate, Hi Mudaffar Syah yang jatuh pada setiap
tanggal 13 April. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang
dijelaskan dengan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan studi dokumen, observasi dan wawancara. Teknik analisis
datanya dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan
keseimpulan.
Hasil penelitian yang penulis lakukan menunjukkan Festival Legu Gam
merupakan manifestasi kebudayaan daerah yang dilakukan sebagai bentuk
dari rangkaian proses rekonsiliasi atas konflik sosial yang pernah melanda
masyarakat Ternate ataupun Maluku Utara. Festival legu gam sebagai alat
merepresentasikan kebudayaan daerah. Terdapat tiga peristiwa adat dalam
pelaksanaan legu gam yang menjadi wajib pelaksanaannya yaitu tradisi
Kololi Kie, Fere Kie dan Doru Gam. Ketiga tradisi tersebut merupakan satu
mata rantai atas keterhadiran legu gam. Legu gam adalah simbol manifestasi
kebudayaan daerah yang dilakukan secara tradisi yang pelibatannya pada
pihak kesultanan Ternate. Diartikan sebagai pesta rakyat, legu gam
termanifestasikan dalam bentuk tarian sakral legu kadato. Tarian sakral ini
hanya bisa dipentaskan di dalam kedaton kesultanan Ternate oleh para
gadis-gadis dari turunan bangsawan.
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan pada bab pembahasan maka
penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : (1) Festival legu gam
harus lebih banyak menampilkan kebudayaan lokal untuk mengedukasi para
generasi muda agar mereka lebih mencintai kebudayaan daerahnya. (2)
Pihak penyelenggara festival harus bisa mengatur acara kebudayaan dengan
memberikan ruang lebih banyak kepada masyarakat yang mau berpartisipasi
dalam menampilkan kebudayaan lokalnya. (3) Penyelenggara festival legu
gam harus bisa mengemas dan merepresentasikan kebudayaan dari empat
kesultanan yang terdapat di Maluku Utara. (4) Merancang sebuah napaktilas
para sultan dalam bentuk film untuk diputarkan dalam setiap pelaksanaan
festival.
Kata Kunci : legu gam, kebudayaan daerah, kololi kie, fere kie, doru gam.
Tidak tersedia versi lain