Text
DETERMINASI KEMAMPUAN MENANGKAP SEDIMEN DENGAN SISTIM PENGOPERASIAN SECARA DINAMIS DARI BEDLOAD TRANSPORT METER ARNHEM (BTMA) TERMODIFIKASI
Pantai merupakan salah satu wilayah yang memiliki dinamika perairan
yang kompleks dan juga menjadi aset penting bagi suatu wilayah atau kawasan ,
pantai juga mempunyai keseimbangan dinamis yang cenderung menyesuaikan
bentuk profilnya sedemikian rupa melalui mekanisme transport sedimen yang
salah satu adalah bedload. Insturmen yang umum digunakan dalam studi badload
adalah BTMA (Bed Load Transport Meter Arnhem) dan dioperasikan pada
perairan sungai, dan hingga saat ini belum ada instrumrn khusus yang
dioperasikan di perairan laut/pantai. Hasil pengembangan BTMA perlu untuk
diuji dengan berbagai variasi metode, salah satu variasi dalam pengoperasiannya
adalah pengoperasian secara dinamis dengan variasi kecepatan penarikan 10, 12
dan 14 detik dalam jarak 2 m dengan variabel kondisi perairan saat air bergerak
pasang (ABP) dan air bergerak surut (ABS). Penelitian dilakukan pada pantai
Kelurahan Takome (Stasiun 1) dan Pantai Jikomalamo (Stasiun 2) yang mewakii
energi kuat dan lemah. Tujuan penelitian yang ingin dicapai yakni 1)
mengidentifikasi karakteristik material bed load dari pengoperasian BTMA (Bed
Load Transport Meter Arnhem) termodifikasi. 2) Melakukan determinasi jumlah
material sampling pada pengoperasian BTMA dengan cara penarikan (secara
dinamis) dan 3) Melihat uji kelayakan BTMA (Bed Load Transport Meter
Arnhem) yang dioperasikan di perairan pantai/laut secara dinamis.
Hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata material bedload yang
terperangkapa saat kondisi Air Bergerak Surut (ABS) di stasiun 1 dan stasiun 2
lebih tinggi (0,45 dan 0,46 mg/ml) dibandingkan saat air bergerak pasang (0,42
dan 0,42 mg/ml), dimana densitas rata-rata material pada stasiun 1 lebih besar
(2.284 kg/m3) dibandingkan di stasun 2 (1.324 kg/m3). Persentase dinamika
sedimen dasar potensial sebagai sedimen bedload di kedua stasiun sama banyak
(14 %) dan ketebalan thikness pada aliran dekat dasar di stasiun 1 lebih tinggi
(rata-rata 0,64 m) sedangkan pada stasiun 2 sebesar 0,20 m. Dinamika sedimen
dasar berukuran 1.18 mm sebesar 20,28 m3/24 jam/m di stasiun 1 dan 1,01 m3/24
jam/m di stasiun 2, sedangkan kadar sedimen yang terperangkap (total) sebesar
0,74 m3/24 jam/m atau hanya mengambil 4 % dari jumlah dinamika sedimen
berukuran 1.18 mm (#16) dari stasiun 1 dan 39 % di stasiun 2. Makin lambat
kecepatan penarikan BTMA sebagai mekanisme sampling dinamis, maka makin
banyak kadar sedimen bedload yang terperangkap. Instrumrn BTMA yang
dikembangkan dapat melakukan sampling sedimen bedload minimal mampu
mengambil sampel sebanyak 3% dari potensial sedimen dasar yang mengalami
dinamika/pergerakan. Transport sedimen di lokasi stasiun 1 (Takome) lebih besar
(22,11 m3/24 jam/m) dibandingkan pada stasiun 2 (Jikomalalo) sebesar (1,79
m3/24 jam/m), namum instrumrn BTMA lebih effektif bekerja di stasiun 2 yang
mampu mengambil sedimen bedload (16) sebesar 39 % dibandingkan
kemampuannya di stasiun 1 (4%).
Tidak tersedia versi lain