Text
PERANCANGAN PUSAT EDUKASI KERAJINAN BAMBU (Pendekatan : ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR )
Negara dengan memiliki kekayaan alam seperti tumbuhan bambu dapat menunjang
ekonomi negara khusus dalam bidang kerajinan bambu. Indonesia merupakan
salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam dengan baik di bidang
kerjinan tangan, namun belum mampu mengembangkan sumber daya alam dengan
baik di bidang kerajinan tangan khususnya bambu dari hasil produk nusantara
yang tidak dapat mengekspos dan dikelola dengan baik di dalam negri maupun ke
luar negri. Faktor penyebabnya adalah pengrajin bambu di Indonesia belum bisa
bersaing menghasilkan produk baik di dalam negeri maupun di luar negeri padahal
Indonesia memiliki potensi yang belum di olah. Untuk itu diperlukan sebuah wadah
yang bisa meningkatkan dan mengembangkan hasil kerajinan bambu. Pusat
Edukasi Kerajinan Bambu ini akan menerapkan sarana dan prasarana yang lebih
memadai dalam mengolah sumber daya alam khususnya bambu denan
memperkenalkan wadah yang berfungsi sebagai pusatnya Kerajinan Bambu
khususnya di Provinsi Maluku Utara. Maka dari itu, perlu suatu pendekatan
arsitektur yang dapat menjadi koridor agar bangunan, system, dan kegiatan serta
identitas lokalpun dapat berkesinambungan. Arsitektur Neo-vernakular digunakan
dalam pemenuhan identitas daerah setempat, serta fungsi bangunan itu sendiri dan
memperkenalkan budaya dari daerah setempat yang tidak akan dilupakan
sepanjang masa dan telah dikena luas di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pengembangan di sektor kerajinan bambu dalam hal perencanaan yaitu
”Perancangan Pusat Edukasi Kerajiinan Bambu” yang mana dapat meningkatkan
dan mengembangkan sumber daya alam & mineral serta sumber daya manusia di
bidang Kerajinan bambu kalau semua fasilitas sarana dan prasarana yang
memadai.
Kata Kunci : Pusa Edukasi, Kerajinan, Bambu, Kota Ternate, Maluku Utara,
Arsitektur Neo-Vernakular
Tidak tersedia versi lain